Abstract


ABSTRAK

 

Kejadian stunting pada balita termasuk salah satu permasalahan gizi secara global. Di Provinsi Lampung prevalensi stunting pada tahun 2022 berada pada angka 27,3%. Di Kabupaten Lampung Barat prevalensi stunting pada tahun 2022 berada pada angka 7.9% dengan jumlah balita 974 (Dinkes Lampung Barat, 2022). Sedangkan di Puskesmas Lombok menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 87 (10,06%) balita yang mengalami stunting. Fakta ini menunjukkan masalah Balita pendek dan masih perlu mendapatkan perhatian. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lombok Kecamatan Lumbok Seminung Lampung Barat

Metode penelitian ini menggunakan desain case control. Populasi penelitian adalah semua ibu yang memiliki balita usia 12-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Lombok Kecamatan Lumbok Seminung Lampung. Sampel kelompok kontrol adalah sebanyak 52 ibu yang memiliki balita 12-59 bulan yang tidak menderita stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Lombok Kecamatan Lombok Seminung Lampung Barat. Sehingga total sample sebanyak 104 balita. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi square.

Hasil penelitian menunjukkan responden yang mengalami stunting sebanyak 52 responden (50,0%), pendidikan ibu rendah 55 responden (52,9%), status ekonomi rendah 58 responden (55,8%), pola asuh negatif 62 responden (40,4%), tidak memberikan ASI Eksklusif 61 responden (58,7%). Ada hubungan pendidikan ibu  (p value 0,049, OR 2,4), status ekonomi (p value 0,010, OR 3,1), pola asuh (p value 0,009, OR 3,2), pemberian ASI eksklusif (p value 0,046, OR 2,4) dengan kejadian stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lombok Kecamatan Lumbok Seminung Lampung Barat. Berdasarkan hasil dan pembahasan maka peneliti menyarankan promosi pemberian ASI secara eksklusif perlu ditingkatkan lagi untuk mengatasi permasalahan balita stunting.

 

Kata Kunci : Stunting, Balita, Faktor